Rabu, 16 Mei 2012

Konsep Pendidikan dalam Surat Lukman ayat 12-19


1.      Pengertian Pendidikan Islam
Berdasarkan beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli, serta beberapa pemahaman yang diturunkan dari beberapa istilah dalam pendidikan islam seperti tarbiyah. Ta’dib, dan riyadhoh, maka pendidikan islam dapat dirumuskan sebagai berikut : prosses transinternalisasi pengetahuan dan nilai islam kepada peserta didik melalui upaya pengajaran, pembiasaan, bimbingan, pengasuhan, pengawasan dan pengembangan potensinya guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup di dunia dan akhirat.[1] Definisi ini memiliki lima unsur pokok pendidikan islam yaitu :
a.    Proses transinternalisasi. Upaya dalam pendidikan islam dilakukan secara bertahap, berjenjang, terencana, tersruktur, sistematik dan terus menerus dengan vara transformasi dan internalisasi ilmu pengetahuan dan nilai islam pada peserta didik.
b.    Pengetahuan dan nilai islam. Materi yang diberikan kepada peserta didik adalah ilmu pengetahuan dan nilai islam.
c.    Kepada peserta didik. Pendidikan diberikan kepada peserta didik sebagai subjek dan objek pendidikan.
d.   Melalui upaya pengajaran, pembiasaan, bimbingan, pengasuhan, pengawasan dan pengembangan potensinya.
e.    Guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup di dunia dan akhirat. Tujuan akhir pendidika islam adalah terciptanya insan kamil yaitu manusia yang mampu menyelaraskan dan memenuhi kebutuhan dunia dan akhirat.
2.      Tujuan pendidikan islam
Sebagai bagian dari komponen kegiatan pendidikan, keberadaan rumusan tujuan pendidikan memegang peran dangat penting. Krena memang tujuan berfungsi mengarahkan aktivitas, dorongan untuk bekerja memberi nilai dan membantu mencapai keberhasilan. Mengutip dari buku ilmu pendidikan islam oleh bapak mangun budianto, [2] terdapat Beberapa rumusan tujuan akhir pendidikan itu, antara lain :
a.       Terhindar dari siksa api neraka.
b.      Terwujudnya generasi yang kokoh dan kuat dalam segala aspeknya.
c.       Menjadikan peserta didik berguna dan bermanfaat bagi dirinya maupun bagi masyarakat.
d.      Tercapainya kehidupan yang sempurna yang dalam istilah lain sering disebut “insan kamil”.
e.       Menjadi anak sholeh.
f.       Menjadi manusia yang berpribadi muslim. Hal ini ditegaskan oleh anwar jundi yang menulis “di dalam konsep (islam) ini, tujuan pertama dan pokok dari pendidikan ialah terbentuknya manusia yang berpribadi muslim.  
Ibnu khaldun, yang dikutip oleh Muhammad Athiyah Al-Abrosyi,[3] merumuskan tujuan pendidikan islam dengan berpijak pada firman Allah  sebagai berikut:
Artinya:”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.(QS. Al-Qashas : 77)
Berdasarkan firman diatas, ibnu khaldun merumuskan bahwa tujuan pendidikan islam terbagi atas dua macam yaitu, (1) tujuan yang berorientasi ukhrawi, yaitu membentuk seorang hamba agar melakukan kewajibannya kepada Allah; (2) tujuan yang berorientasi duniawi, yaitu membentuk manusia yang mampu menghadapi segala bentuk kebutuhan dan tantangan hidup agar hidupnya lebih layak dan bermanfaat bagi orang lain.
3.      Konsep Pendidikan Islam menurut surat Luqman ayat 12-19
Artinya: 12. Dan Sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, Yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan Barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".13. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".14. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[1180]. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.15. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.16. (Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus[1181] lagi Maha mengetahui.17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).18. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.19. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan[1182] dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

[1180] Maksudnya: Selambat-lambat waktu menyapih ialah setelah anak berumur dua tahun.
[1181] Yang dimaksud dengan Allah Maha Halus ialah ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu bagaimana kecilnya.
[1182] Maksudnya: ketika kamu berjalan, janganlah terlampau cepat dan jangan pula terlalu lambat.
Lukman Al-Hakim, sebagaimana telah dikatakan oleh para ulama tafsir adalah seorang hamba yang soleh bukan seorang nabi, akan tetapi Allah mengkaruniakan kepadanya hikmah (kepahaman dan ilmu serta kelmbutan dalam berbicara) allah SWT berfirman: yang artinya 12. Dan Sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, Yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan Barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".
Suatu hal yang harus diperhatikan, bahwa apa yang diisyaratkan Allah tentang Lukman al hakim bukan hannya khusus bagi dirinya dan bukan hannya sekedar kabar cerita yang tidak berguna. Akan tetapi cerita ini merupakan metode bagi setiap orang tua dan bagi setiap anak  dalam kehidupan serta menjadi tauladan yang turun temurun dari masa kemasa.
Metode Luqman dengan anaknya dinisbatkan oleh ulama ilmu jiwa moderen dengan “metode pendidikan dengan nasehat.” Mereka berpendapat bahwa metode ini harus diiringi dengan cara lannya, yaitu metode “pendidikan ketauladanan.” Karena nasihat walaupun mampu membangkitkan jiwa, akan tetapi membutuhkan unsur penggerak semangat jiwa yang mampu mengarahkan dengan sempurna.


a.      Pendidikan akidah
Nasehat pertama yang diberikan lukma terhadap anaknya ialah ”wahai anakku! Janganlah menyekutukan Allah, karena menyekutukan Allah adalah kedzaliman yang besar.” Maka seorang pendidik wajib mendidik anaknya agar mengesakan Allah SWT dari lainnya dengan sifat wahdaniyah (KeEsaan Tuhan) dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Bahwa pendidikan tauhid atau akidah ini merupakan pendidikan yang pertama yang harus di berikan kepada peserta didik, karena sebagai dasar bagi dirinya untuk dapat melanjutkan tahap pendidikan yang selanjutnya. Sehingga ketika pada tahap selanjutnya ada goncangan-goncangan yang bersifat merusak akidah seorang peserta didik, maka ia sudah mampu unutk melawan atau menolak goncangan tersebut.
b.      Pendidikan akhlak
Ayat selanjutnya ialah “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[1180]. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” Bahwa penanaman akhlak kedalam diri peserta didik merupakan hal yang perlu diperhatikan. Terlebih lagi terhada kedua orang tua, terutama ibu. Dalam ayat tersebut di gambarkan bahwa “ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun”. Suatu keadaan yang begitu berat dijalani bagi wanita, yaitu ketika mengandung. Oleh karena itu di dalam hadis ketika Rasul di tanya oleh seseorang tentang siapa yang terlebih dahulu harus di hormati maka rasul menjawa ibu. Jawaban itu pun berturut-turut sebanyak tiga kali, yang kemudian baru ayah. Hal ini bukan berarti mengurangi rasa hormat terhadap Ayah atau bapak, akan tetapi lebih mengangkat perjuangan seorang ibu yang telah mengandung dan menyapihnya dalam keadaan lemah yang semakin lemah.
Dan pelajaran penting bagi seorang peserta didik, ketika seorang orang tua mengajak kepada kemusyrikan maka kewajiban seorang anak ialah menolak ajakan tersebut. Sebagaimana nasehat lukman berikutnya “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya,  Bahkan dalam ayat tersebut, ketika seorang anak sudah menolak ajakannya maka diperintahkan untuk tetap mempergaulinya di dunia ini dengan baik “dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku”, dan hanya tetap menjadikan Allah sebagai tempat kembali dan mengadukan segala rasa penatnya “kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
Akhlak seorang merupakn cerminan dari pribadinya. Allah tidak melihat kepada tampilan, atau sesuatu yang bersifat fisik, akan tetapi allah hanya melihat isi hatinya, atau dalam kata lain akhlak termaksud di dalamnya. Selain akhlak terhadap orang tua baik itu ibu maupun bapaknya, akhlak dalam berhubungan sosial pun perlu di tanamkan kepada seorang peserta didik. Hal ini agar ia tidak memiliki rasa sombong dan rasa kebanggaan akan dirinya secara berlebihan. Karena prilaku tersebut bukanlah prilaku yang baik untuk anak didik dalm berhubungan dengan lingkungan sosialnya. 
c.       Pendidikan Ibadah
Ibadah merupakan tujuan utama dari di ciptakannya jin dan manusia. Oleh karena itu, penanaman akan pentingnya ibadah untuk dilakukan , hendaknya di mulai sejak dini. Karena setiap perbuatan yang dilakukan manusia akan menjadi ibadah manakala perbuatan itu dilakukan dengan dasar ilmu dan juga keikhlasan yang tinggi dari si pelaku ibadah. Sehinggga akan mmperoleh balasan dari Allah swt. Sekalipun perbuatan atau amal itu hanya sebesar biji sawi, dengan catatan di dasari Ilmu dan rasa ikhlas. Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui. Bahkan dalam hal ini bukan saja amal baik saja yang akan meperoleh balasan. Ketika seorang berbuat tidak baik pun walaupun sebesar biji sawi, maka akan dimintai pertanggung jawabanya, atau dengan kata lain Allah akan membalasnya.
Perintah shalat pun tidak lepas dari nasehat lukman kepada anaknya. Pembiasaan ibadah shalat hendaknya di berikan kepada anak didik sejak dini, walaupun belum merupakan kewajiban baginya. Akan tetapi hal ini untuk membiasakan dirinya untuk mendirikan shalat. Sehingga ketika ia tumbuh dewasa nanti akan terbiasa dengan shalat. Tidak seperti kebanyakan para pemuda pemudi sekarang.  
Ini yang kiranya perlu diketahui olah para pendidik, bahwa ibadah itu merupakan sesuatu hal yang penting yang perlu ditanamkan  kepada setiap anak didiknya.
Bebarapa hal di atas kiranya perlu di perhatikan oleh setiap pendidik dalam mendidik anak didiknya. Konsep tersebut merupakan hal yang perlu diimplementasikan kepada setiap anak didik dan di tambah dengan konsep-konsep pendidikan lainya, yang nanti akan terwujud “insan kamil” sebagaimana yang dirumuskan dalam tujuan pendidikan islam itu sendiri.     


Kesimpulan
Maka konsep pendidikan islam menurut surat lukman ayat 12-19 tersebut ialah mencakup pendidikan akidah, pendidikan akhlak, pendidikan ibadah. Konsep tersebut perlu kiranya di tambah dengan konsep-konsep lainya dan diterapkan dengan metode-metode pendidikan yang berhubungan. Sehingga mampu terwujudlah insan kamil yang merupakan tujuan pendidikan islam itu sendiri. Dengan tetap mengambil rujukan kepada Al-Qur’an dan hadis.


DAFTAR PUSTAKA

Budiyanto, Mangun, Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta: Griya Santri, 2011

Hasan mansyur, hasan, Metode Islam dalam Mendidik Remaja. Kairo: Al-Ahrom, 2002

Hasbullah,   Dasar-dasar Ilmu Pendidikan.    Jakarta : Raja grafindo persada, 2009

Mujib, abdul dan Mudzakir, Jusuf, Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006

















[1] Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006), hlm. 29-28
[2] Mangun Budianto,  Ilmu Pendidikan islam. (Yogyakarta: Griya Santri, 2011), hlm. 27-28
[3] Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006), hlm. 80-81

Belajar dalam Alquran



A.  Pengertian Belajar
Di kalangan psikolog terdapat keberagaman cara dalam menjelaskan dan mendefinisikan tentang makna belajar (learning). Namun, baik secara eksplisit maupun implisit pada akhirnya memiliki kesamaan makna. Salah satu definisi yang nyaris disepakati bersama adalah bahwa belajar merupakan sebuah proses erubahan perilaku atau pribadi berdasarkan praktik atau pengalaman tertentu.[1]
Adapun beberapa ciri perubahan yang merubah yang merubah perilaku belajar antara lain :
1.    Perubahan intensional dalam arti perubahan yang terjadi karena intensitas pengalaman, praktik atau latihan yang dilakukan secara sengaja.
2.    Perubahan menuju ke arah positif, dalam arti sesuai dengan yang diharapkan atau kriteria keberhasilan baik diandang dari segi siswa, guru maupun lingkungan sosial.
3.    Perubahan yang efektif dalam arti membawa pengaruh dan makna tertentu bagi siswa.[2]
Arthur J. Gates et al mengatakan bahwa “learninng is a modification of behavior through experience and training” (Gates et al, 1954, hal 288). Jadi dengan belajar harus ada atau terjadi perubahan tingkah laku melalui pengalaman dan latihan.
Belajar juga perlu distimulasi ke arah hasil-hasil yang diinginkan. Dan seterusnya bahwa belajar adalah usaha untuk menguasai dan memperoleh kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap-sikap.  Belajar juga merupakan kegiatan untuk mendapatkan hal-hal baru disaming memperkuat hal-hal yang telah dikuasai (dimiliki) dan yang baru sekalipun. Terkandung di dalam hal-hal yang baru adalah usaha untuk memecahkan masalah (problem solving), sedangkan yang terdapat di dalam memerkuat hal-hal yang telah dikuasai adalah mengulang atau menghafalkannya.[3]
Selain itu ada beberapa prinsip belajar. Prinsip-prinsip tersebut antara lain sebagai berikut :
1.      Belajar sebagai usaha memperoleh perubahan tingkah laku
2.      Hasil belajar ditandai dengan perubahan seluruh aspek tingkah laku.
3.      Belajar merupakan suatu proses
4.      Proses belajar terjadi karena ada dorongan dan tujuan yang akan dicapai
5.      Belajar merupakan bentuk pengalaman

B.  Teori Belajar
Belajar adalah aktivitas yang disadari dan dengan kemauan yang cukup kuat serta mengharapkan hasil belajar yang baik (optimum), maka memerlukan situasi dan kondisi yang cukup baik juga. Diantara situasi dan kondisi yang baik (kondusif) adalah :
1.      Faktor internal, yakni individu yang mau belajar harus dalam keadaan sehat jasmani dan rohaninya, ada kesadaran, kemauan, perhatian, minat, dan tujuan belajar yang sungguh-sungguh untuk belajar.
2.      Faktor eksternal, yang terdiri dari:
a.       Situasi dan kondisi tempat belajar harus nyaman
b.      Alat-alat belajar tersedia cukup
c.       Jika dierlukan ada orang pendamping yang dapat membantu memecahkan masalah yang dihadapi
d.      Tersedia waktu yang cukup untuk belajar dan dapat diatur dengan jadwal
e.       Jika diperlukan dapat memakai lagu-lagu yang merdu untuk penyegar suasana belajar
f.       Belajar disekolah atau kampus memang sudah didesain baik sesuai dengan aturan sekolah dan kampus.[4]
Pembahasan mengenai teori belajar akan dibagi mejadi dua , yaitu teori belajar berdasarkan sistem dan menurut aliran-aliran besar psikologi.
1.      Teori Belajar berdasarkan Sistem, terdiri dari:
a.       Sistem Classical Conditioning
Teori pembiasaan klasikal atau Classical Conditioning ini dikemukakan oleh Ivan Petrovich Pavlov lewat keberhasilan percobaannya kepada anjing.
Teori ini menganggap bahwa belajar itu hanyalah terjadi secara otomatis (alami). Inilah sumbangan terbesar teori ini yang sekaligus menjadi titik pangkal kelemahannya, sebab pada saat yang bersamaan teori ini tidak menghiraukan peranan keaktifan dan penentuan pribadi dalam menentukan latihan/kebiasaan.[5]
b.      Sistem Instrumental Conditioning
Teori Instrumental Conditioning (Conditioning oerant) ini menyatakan bahwa tingkah laku yang dipelajari berfungsi sebagai instrumen (penolong) untuk mencapai hasil atau ganjaran yang dikehendaki. Pencipta teori ini adalah Burrhus Frederic Skinner (1904) ia adalah seorang penganut behaviorisme.[6]
c.       Sistem Cognitif Learning
Teori ini dikemukakan ertama kali oleh seorang psikolog asal Jerman yang bernama Wolfang Kohler melalui percobaannya ad beberapa ekor simpanse.
Teori ini menyatakan bahwa manusia sebagai pribadi manusia tidak secara langsung bereaksi kepada suatu perangsang dan kalaupun bereaksi sekaligus, reaksinya itu tidak terjadi secara membabi buta.ia selalu ada tahayang sering disebut trial and error.[7]
d.      Sistem Belajar Sosial
Teori ini masyhur dengan sebutan teori Observation learning (belajar observasi dan pengamatan). Tokohnya ialah Albert Bandura, seorang psikolog di Universitas Stanford Amerika Serikat. Bandura memandang tingkah laku manusia bukan semata-mata  refleks atas stimulus, melainkan juga akibat dari interaksi antar lingkungan dengan skema kognitif manusia itu sendiri.[8]

2.      Teori Belajar berdasarkan Aliran
a.       Teori belajar menurut aliran Faculty Theory
Teori ini dipelopori antara lain oleh Salz dan Walff yang menyatakan bahwa manusia itu terdiri dari berbagai daya yang masing-masing mempunyai fungsi tertentu seerti daya ingatan, daya khayal, daya pikir dan sebagainya. Daya-daya itu daat dilatih sehingga bertambah fungsinya.
b.      Teori Belajar menurut Aliran Ilmu Jiwa Asosiasi
Menurut teori ini belajar meruakan ercampuran dari berbagai unsur. Atau dengan kata lain belajar sebagai roses bagaimana menghubungkan dan menggabungkan beragam resons dari sebuah stimulus.[9]

a.       Belajar dalam Al-Qur’an
Dalam Al-Qur’an surat Al-‘Alaq ayat 1-5 yang merupakan wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW yakni perintah untuk membaca. Sebagai mana yang berbunyi :
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1589],
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
[1589] Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.
            Mengapa iqra’ merupakan perintah pertama yang ditujukan kepada nabi, padahal beliau seorang yang Ummi (yang tidak pandai membaca dan menulis )? Mengapa demikian?
            Iqra’ terambil dari akar kata yang berarti “ menghimpun” sehinga tidak selalu harus diartikan “membaca teks tertulis dengan aksara tertentu”[1]. Dari menghimpun lahir aneka ragam makna, seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca, baik tertulis mapun tidak.
Iqra’ (Bacalah)! Tetapi apa yang harus dibaca ? “Ma Aqra’”? tanya nabi - dalam suatu riwayat- setelah beliau kepayahan dirangkul dan diperintah membaca oleh malaikat Jibril a.s.
Pertanyaan itu tidak dijawab, karena Allah menghendaki agar beliau dan umatnya membaca apa saja selama bacaan tersebut bismi Rabbika,  dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan. Oleh karena itu belajar dalam hal ini menurut surat Al-Alaq tersebut berarti belajar di artikan tidak hanya dengan membaca atau belajara secar formal di lembaga-lembaga pendidikan, melainkan belajar dari segala sesuatu hal yang kiranya hal tersebut bermanfaat dan mengandung kemaslahatan bersama bagi manusia itu sendiri.

b.      Metode belajar dalam Al-Qur’an
Manusia belajar dengan berbagai metode. Terkadang ia belajar dengan meniru. Anak anak biasanya meniru kedua orang tuanya dan dari keduanya ia banyak belajar entang berbagai kebiasaan dan pola tingkahlaku.
1.      Peniruan
Al-Qur’an sendiri telah mengemukakan contoh bagaimana manusia belajar lewat metode meniru. Ini dikemukakan dalam kisah pembunuhan yang dilakukan Qabil terhadap saudaranya, Habil, dan ia tidak tahu bagaimana memperlakukan mayat saudaranya itu. Maka Allah pun mengutus seekor burung gagak untuk menggali-gali tanah guna menguburkan bangkai seekor gagak lain. Dari gagak itulah Qabil belajar menguburkan mayat saudaranya.[2]
Artinya :”Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya[410]. berkata Qabil: "Aduhai celaka Aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" karena itu jadilah Dia seorang diantara orang-orang yang menyesal.
2.      Pengalaman Praktis, Trial dan Error
Dalam menghadapi berbagai problem kehidupan dan upayanya untuk mengatasi,manusia juga belajar lewat pengalaman praktis. Dalam kehidupannya, manusia selalu menghadapi situasi-situasi baru yang belum diketetahui begaimana menghadapinya dan bagaimana harus bertindak. Dalam situasi demikian, manusia memberikan rrespon yang beraneka ragam. Terkadang mereka keliru dalam menghadapinya, tetapi terkadang juga tepat. Dengan demikian belajar, lewat apa yang oleh para ahli ilmu jiwa modern disebut”Trial and Error”. Memberikan respon terhadap situasi-situasi baru mencari jalan keluar dari pobrelem-problem yang dihadapinya.
AlQur’an dalam sebagian ayatnya, memberikan dorongan kepada manusia untuk mengadakan perjalanan di muka bumi ini, mengadakan pengamatan  dan memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah dan alam semesta. Karena dengan itu semua, baik melalui pengamatan terhadap hal, pengalaman praktis dalam kehidupan sehari-hari, ataupun lewat interaksi dengan alam semesta dan berbagai mahluk dan peristiwa yang ada dan terjadi di dalamnya akan membawa manusia kepada pemahaman dan pengatahuan tenang sesuatu hal yang baru atau sesuatu yang belum pernah ia alami.
Nabi Muhammad saw sendiri telah mengemukakan tentang pentingnya belajar dari pengalaman praktis dalam kehidupan. Dituturkan dari Talhah ibn Abdullah, bahwa ia berkata pada suatu ketika aku bersama sama Rasulullah saw lewat pada tempat beberpa orang yang sedang memanjat pohon kurma. Rasulullah saw bertanya: “apa yang sedang mereka lakukan”? jawab para sahabat. “mereka sedang mengawinkannya, dengan meletakkan serbuk bunga yang jantan pada bunga betina. Sehingga terjadi perkawinan.” Rasul berkata “ menurut pendapatku tampaknya hal itu tidak ada gunanya.” Kata talhah para sahabat pun memberi tahu orang-orang itu mengenai pendapat Rasulullah mengenai apa yang mereka lakukan. Dan Rasulullah saw pun diberitahu tentang pemberitahuan akan pendapat beliau itu. Rasulullah berkata “bila hal itu berguna bagi mereka biarkanlah mereka melakukannya. Itu hannya dugaan ku saja janganlah kalian ambil. Tetapi apabila engkau memberitahu sesuatu dari Allah maka ambillah. Sesungguhnya aku tidak pernah berbohong sama sekali tenang Allah.” Sabda rasulullah saw “bila hal itu berguna bagi ereka, biarkanlah mereka lakukan” dan “kalian lebih tau urusan duniawi kalian” hal ini menginsyaatkan tenatang belajarnya manusia membuat respon-respons baru lewat pengalaman praktis, dari berbagai situasi baru yang dihadapinya, dan berbagai jalan pemecahan daari problem-problem yang dihadapinya.
3.      Berpikir
Dalam belajar manusia juga memakai metode berpikir. Ketika seseorang sedang berpikir dalam memecahkan suatu problem, dalam kenyataanya ia sedang melakukan “trial dan error” secara intelektual. Sebab dalam pikirannya ia sedang mengusahakan berbagai jalan keluar dari problem tersebut. Jadi, lewat berpikir manusia belajar berbagai jalan keluar dari problem-problemnya, menyingkapkan hubungan antara hal-hal dan peristiwa-peristiwa, menyimpulkannya berbagai prinsip dan teori baru, dan sampai pada berbagai penemuan dan ciptaan baru. Oleh karena itu, peroses balajar disebut oleh para ahli olamu jiwa moderen dengan proses belajar tingkat tinggi.      
Al-Qur’an sendiri menggunakan bentuk diskusi dan polemik dengan orang-orang musyrik dan mengemukakan kepada mereka berbagai bukti logika yang membuktikan kekeliruannya dalam menyembah berhala. Ini dimaksudkan untuk membangkitkan pemikiran mereka tentang tuhan-tuhan mereka dan dengan tujuan untuk meyakini mereka akan kerendahan, kehinaan, dan ketidakmampuan tuhan-tuhan mereka itu. Sehingga akan tampak jelas bagi mereka keridaklayakan berhala-berhala itu sebagai tuhan. Sebagai contoh adalah ayat berikut :
Artinya: 191. Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhada-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang.
192. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala-berha]a itu tidak dapat memberi pertolongan.
193. Dan jika kamu (hai orang-orang musyrik) menyerunya (berhala) untuk memberi petunjuk kepadamu, tidaklah berhala-berhala itu dapat memperkenankan seruanmu; sama saja (hasilnya) buat kamu menyeru mereka ataupun kamu herdiam diri.
194. Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu. Maka serulah berhala-berhala itu lalu biarkanlah mereka mmperkenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.
195. Apakah berhala-berhala mempunyai kaki yang dengan itu ia dapat berjalan, atau mempunyai tangan yang dengan itu ia dapat memegang dengan keras[589], atau mempunyai mata yang dengan itu ia dapat melihat, atau mempunyai telinga yang dengan itu ia dapat mendengar? Katakanlah: "Panggillah berhala-berhalamu yang kamu jadikan sekutu Allah, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)-ku. tanpa memberi tangguh (kepada-ku)".

[589] Kata yabthisyuun di sini diartikan bertindak dengan keras; Maksudnya: menampar, merusak, memukul, merenggut dengan kasar dan sebagainya.
Daftar pustaka :
Najati, M. Usman, Al-Qur’an Dan Ilmu Jiwa, (Bandung: Pustaka, 2004)
M. Qurais Shihab, Wawasan Al-Qur’an. (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2007), hlm. 5



[1] M. Qurais Shihab, Wawasan Al-Qur’an. (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2007), hlm. 5
[2] Ustman Najati, Al-Qur’an dan ilmu jiwa. (Bandung: Pustaka, 2004), hlm. 175




[1] Akyas Azhari, Psikilogi Umum dan Perkembangan, (Bandung: Seri Buku Daras, 2004), hlm.122
[2] Akyas Azhari, Psikilogi Umum dan Perkembangan, (Bandung: Seri Buku Daras, 2004), hlm.122
[3] Ki Fudyartana, Psikologi Umum, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), hlm. 267-268
[4] Ki Fudyartana, Psikologi Umum, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), hlm.268-267
[5] Akyas Azhari, Psikilogi Umum dan Perkembangan, (Bandung: Seri Buku Daras, 2004), hlm. 127
[6] Akyas Azhari, Psikilogi Umum dan Perkembangan, (Bandung: Seri Buku Daras, 2004), hlm. 127-128
[7] Akyas Azhari, Psikilogi Umum dan Perkembangan, (Bandung: Seri Buku Daras, 2004), hlm. 129
[8] Akyas Azhari, Psikilogi Umum dan Perkembangan, (Bandung: Seri Buku Daras, 2004), hlm. 129-130
[9] Akyas Azhari, Psikilogi Umum dan Perkembangan, (Bandung: Seri Buku Daras, 2004), hlm. 132

Pengikut